Senin, 01 Maret 2010

Penyakit Darah Tinggi (Hipertensi)


Penyakit darah tinggi atau Hipertensi (Hypertension) adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya.

Nilai normal tekanan darah seseorang dengan ukuran tinggi badan, berat badan, tingkat aktifitas normal dan kesehatan secara umum adalah 120/80 mmHG. Dalam aktivitas sehari-hari, tekanan darah normalnya adalah dengan nilai angka kisaran stabil. Tetapi secara umum, angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat diwaktu beraktifitas atau berolahraga.


Bila seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan tidak mendapatkan pengobatan dan pengontrolan secara teratur (rutin), maka hal ini dapat membawa si penderita kedalam kasus-kasus serius bahkan bisa menyebabkan kematian. Tekanan darah tinggi yang terus menerus menyebabkan jantung seseorang bekerja extra keras, akhirnya kondisi ini berakibat terjadinya kerusakan pada pembuluh darah jantung, ginjal, otak dan mata. Penyakit hypertensi ini merupakan penyebab umum terjadinya stroke dan serangan jantung (Heart attack).

Penyakit darah tinggi atau Hipertensi dikenal dengan 2 type klasifikasi, diantaranya Hipertensi Primary dan Hipertensi Secondary :
  • Hipertensi Primary
  • Hipertensi Primary adalah suatu kondisi dimana terjadinya tekanan darah tinggi sebagai akibat dampak dari gaya hidup seseorang dan faktor lingkungan. Seseorang yang pola makannya tidak terkontrol dan mengakibatkan kelebihan berat badan atau bahkan obesitas, merupakan pencetus awal untuk terkena penyakit tekanan darah tinggi. Begitu pula sesorang yang berada dalam lingkungan atau kondisi stressor tinggi sangat mungkin terkena penyakit tekanan darah tinggi, termasuk orang-orang yang kurang olahraga pun bisa mengalami tekanan darah tinggi.


  • Hipertensi Secondary
  • Hipertensi secondary adalah suatu kondisi dimana terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi sebagai akibat seseorang mengalami/menderita penyakit lainnya seperti gagal jantung, gagal ginjal, atau kerusakan sistem hormon tubuh. Sedangkan pada Ibu hamil, tekanan darah secara umum meningkat saat kehamilan berusia 20 minggu. Terutama pada wanita yang berat badannya di atas normal atau gemuk (gendut).

    Pregnancy-induced hypertension (PIH), ini adalah sebutan dalam istilah kesehatan (medis) bagi wanita hamil yang menderita hipertensi. Kondisi Hipertensi pada ibu hamil bisa sedang ataupun tergolang parah/berbahaya, Seorang ibu hamil dengan tekanan darah tinggi bisa mengalami Preeclampsia dimasa kehamilannya itu.

    Preeclampsia adalah kondisi seorang wanita hamil yang mengalami hipertensi, sehingga merasakan keluhan seperti pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri perut, muka yang membengkak, kurang nafsu makan, mual bahkan muntah. Apabila terjadi kekejangan sebagai dampak hipertensi maka disebut Eclamsia.


    1. Penyebab Hipertensi
    Penggunaan obat-obatan seperti golongan kortikosteroid (cortison) dan beberapa obat hormon, termasuk beberapa obat antiradang (anti-inflammasi) secara terus menerus (sering) dapat meningkatkan tekanan darah seseorang. Merokok juga merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi dikarenakan tembakau yang berisi nikotin. Minuman yang mengandung alkohol juga termasuk salah satu faktor yang dapat menimbulkan terjadinya tekanan darah tinggi. Stop menjadi alcoholic!

    2. Penanganan dan Pengobatan Hipertensi
      a. Diet Penyakit Darah Tinggi (Hipertensi)
    • Kandungan garam (Sodium/Natrium)
    • Seseorang yang mengidap penyakit darah tinggi sebaiknya mengontrol diri dalam mengkonsumsi asin-asinan garam, ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk pengontrolan diet sodium/natrium ini ;
      - Jangan meletakkan garam diatas meja makan
      - Pilih jumlah kandungan sodium rendah saat membeli makan
      - Batasi konsumsi daging dan keju
      - Hindari cemilan yang asin-asin
      - Kurangi pemakaian saos yang umumnya memiliki kandungan sodium

    • Kandungan Potasium/Kalium
    • Suplements potasium 2-4 gram perhari dapat membantu penurunan tekanan darah, Potasium umumnya bayak didapati pada beberapa buah-buahan dan sayuran. Buah dan sayuran yang mengandung potasium dan baik untuk di konsumsi penderita tekanan darah tinggi antara lain semangka, alpukat, melon, buah pare, labu siam, bligo, labu parang/labu, mentimun, lidah buaya, seledri, bawang dan bawang putih. Selain itu, makanan yang mengandung unsur omega-3 sagat dikenal efektif dalam membantu penurunan tekanan darah (hipertensi).

      Pengobatan hipertensi biasanya dikombinasikan dengan beberapa obat;
      - Diuretic {Tablet Hydrochlorothiazide (HCT), Lasix (Furosemide)}. Merupakan golongan obat hipertensi dengan proses pengeluaran cairan tubuh via urine. Tetapi karena potasium berkemungkinan terbuang dalam cairan urine, maka pengontrolan konsumsi potasium harus dilakukan.

      - Beta-blockers {Atenolol (Tenorim), Capoten (Captopril)}. Merupakan obat yang dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui proses memperlambat kerja jantung dan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh darah.

      - Calcium channel blockers {Norvasc (amlopidine), Angiotensinconverting enzyme (ACE)}. Merupakan salah satu obat yang biasa dipakai dalam pengontrolan darah tinggi atau Hipertensi melalui proses rileksasi pembuluh darah yang juga memperlebar pembuluh darah.

    Mencegah Hipertensi
    Gizi.net - Yang perlu dihindari adalah junk food, makanan mengandung banyak garam dan vetsin, juga makanan yang terlalu lama di freezer, serta menghentikan kebiasaan merokok.


    Banyak orang yang belum menyadari pentingnya menjaga tekanan darah yang normal. Bahkan seringkali gejala ini diabaikan. Padahal tekanan darah yang tidak normal memiliki risiko tinggi terhadap penyakit jantung, stroke, ginjal, dan gagal ginjal.

    Tekanan darah tinggi (hipertensi) memang perlu diwaspadai. Lebih dari itu, penyakit ini perlu mendapat penanganan yang serius. Tapi sebetulnya antisipasi hipertensi bisa dilakukan dengan cara pemeriksaan tekanan darah secara rutin. Tekanan yang normal adalah 120/80. Sedangkan tekanan darah yang menjadi batas tolerasi normal 140/90. Jika tekanan darahnya mencapai angka 140/90 ini, maka perlu segera mendapat penanganan. Sebab, ini merupakan gejala pre hipertensi.

    Menurut internis dan cardiologist, Dr Djoko Maryono DSPD DSJP FIHA FASE, hipertensi kini menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Angka kematian akibat penyakit ini sama dengan jantung koroner.

    Jumlah penderitanya pun kini semakin meningkat. ''Wanita lebih mudah terserang penyakit ini dibandingkan laki-laki. Dan wanita yang sudah menopause memiliki risiko dua kali lebih besar terkena hipertensi dibandingkan yang pre menopause,'' ungkapnya kepada wartawan saat peluncuran program Zona Peduli Hipertensi oleh Novartis, pekan lalu, di Jakarta.

    Beberapa penyebab kenapa wanita rentan terkena hipertensi, kata Djoko, antara lain karena berat badannya rata-rata lebih besar daripada laki-laki. Wanita juga memiliki aktivitas fisik yang lebih sedikit dibandingkan pria. Di sisi lain, wanita juga lebih banyak makan dibandingkan laki-laki.

    Para penderita hipertensi sering kali tidak merasakan gejala apa-apa. Selama ini orang sering salah mempersepsikan hipertensi yang dikatakan ada kaitannya dengan sakit kepala. Padahal kedua gejala tersebut tidak ada hubungannya.

    ''Untuk mengetahui apakah seseorang terkena hipertensi atau tidak, satu-satunya cara adalah dengan mengukur tekanan darahnya. Penyakit ini sering disebut the silent killer karena sering tidak menimbulkan gejala-gejala yang berarti,'' katanya menerangkan.

    Hipertensi, lanjut Djoko, bisa menimbulkan berbagai komplikasi penyakit lain jika tidak segera ditangani. Misalnya, stroke (30 persen), serangan jantung (22 persen), payah jantung (40 persen), dan gagal ginjal (18 persen).

    Menghindari
    Menurut Djoko, langkah penting yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan darah secara teratur atau terukur. Hal ini tidak perlu dilakukan di rumah sakit atau klinik. Tapi bisa dilakukan sendiri di rumah.

    Alat periksa tekanan darah kini semakin canggih. Harganya juga semakin murah. Sehingga masyarakat bisa membeli alat ini dan melakukan sendiri pemeriksaan secara rutin.

    ''Junk food dan makanan yang mengandung banyak garam juga perlu dihindari. Juga makanan yang terlalu lama di freezer. Konsumsi gula juga perlu dibatasi. Kalau perlu cukup mengonsumsi satu sendok gula setiap hari,'' jelasnya.

    Makanan yang mengandung vetsin sebaiknya juga dihindari. Hal penting lainnya, masih kata Djoko, adalah menghentikan kebiasaan merokok. Sebab satu batang rokok bisa meningkatkan tekanan darah sistolik hanya dalam waktu lima menit.

    Asap rokok, ujarnya, juga merupakan radikal bebas yang bisa mengakibatkan penyempitan pembuluh darah. ''Untuk menghindari penyakit ini, maka perlu istirahat dan tidur yang cukup. Ini perlu diperhatikan karena gaya hidup masyarakat saat ini membuat tidur mereka menjadi kurang,'' demikian katanya.

    Jika sudah terkena penyakit ini, Djoko menyarankan, sebaiknya mengonsumsi obat-obatan yang bisa menurunkan tekanan darah. Obat ini diberikan sesuai dengan petunjuk dokter.

    Masyarakat sering salah persepsi terhadap obat antihipertensi. Mereka menganggap obat jenis ini akan merusak organ tubuh tertentu, terutama ginjal. ''Padahal obat antihipertensi justru melindungi organ tubuh, khususnya ginjal,'' ungkap Djoko.

    Memompa darah
    Jantung adalah organ tubuh yang bertugas memompa darah. Ketika bekerja, jantung akan menimbulkan tekanan. Saat jantung berkontraksi, akan memproduksi suatu gelombang tekanan cairan dalam arteri (pembuluh darah). Tekanan darah pada dinding arteri inilah yang dikenal sebagai tekanan darah.

    Dalam keadaan normal, tubuh mengatur tekanan darah dalam dua cara. Sensor saraf pada beberapa tempat di dalam tubuh mendeteksi tingkat tekanan darah, mengirimkan isyarat ke medulla oblongata (area di dalam otak). Jika tekanan darah terlalu tinggi, sistem saraf otonom akan melepaskan suatu zat (neurotransmitter) yang menyebabkan relaksasi otot polos pembuluh darah.

    ''Ginjal yang mengeluarkan air dari darah juga membantu pengaturan darah. Hormon yang dihasilkan oleh tubuh menyebabkan ginjal mengeluarkan lebih banyak air dari darah jika tekanan darah tinggi,'' kata Marketing Manager for Cardiovascular Business Unit PT Novartis, Shamsul Islam.

    Untuk menjaga tekanan darah yang normal dan mencegah hipertensi, katanya, dianjurkan mengikuti diet (mengurangi lemak dan garam), tidak merokok dan tidak minum alkohol, mengonsumsi lebih banyak buah dan sayuran, menjaga kesehatan dan berat badan ideal, menghindari stres, dan melakukan olahraga secara teratur.

    Agar Tekanan Darah Ideal

    Tekanan darah perlu diusakan ideal setiap hari. Jika tekanan darah normal, maka berbagai aktivitas pun bisa dilakukan dengan baik.

    Bagi mereka yang sudah terkena hipertensi, perlu melakukan berbagai upaya agar tekanan darahnya bisa normal. Penanganan tekanan darah yang efektif dapat membantu pasien hidup lebih baik dan lama.Pasien yang secara teratur berusaha mendapatkan dan mempertahankan tekanan darah yang diinginkan melalui suatu kombinasi modifikasi gaya hidup, mengatur diet, dan melakukan pengobatan yang disarankan, akan mendapat sebuah keberhasilan.

    Menurut Marketing Manager for Cardiovascular Business Unit PT Novartis, Shamsul Islam, Ada beberapa cara untuk membantu penderita hipertensi mendapatkan tekanan darah yang normal :

    1. Membangun kerja sama erat antara pasien dan dokter. Peningkatan pemahaman dan komunikasi antara keduanya terbukti efektif dalam meningkatkan efektivitas pengobatan. Ini akan mendorong pasien agar lebih banyak terlibat dalam mengatur kesehatannya.

    2. Jadikan pengobatan mudah dilakukan. Akan mudah bagi pasien untuk mendapatkan pengobatan jika hanya ada satu dosis per hari. Kadang-kadang lebih dari satu obat dibutuhkan oleh seorang pasien untuk mencapai tekanan darah yang diinginkan. Namun, ditemukan bukti bahwa pasien akan lebih sukses melakukan pengobatan secara rutin jika obat-obatan diresepkan manjadi satu pil dibandingkan diresepkan ke dalam dua pil secara terpisah. Pasien sadar bahwa akan lebih mudah melakukan pengobatan yang disarankan dengan membuat jadwal rutin harian.

    3. Mengingatkan pasien agar melakukan pengobatan secara tepat. Suatu program berupa panggilan telepon dari seorang profesional kesehatan dapat membantu pasien untuk meneruskan pengobatan secara tepat. Ini memungkinkan pasien berdiskusi tentang perawatan dan mengajukan pertanyaan.

    Sumber: http://www.republika.co.id

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar